Koorwil Aisnu Jawa Timur Ajak Madrasah Pacitan Masifkan Syiar di Media Sosial

oleh Aisnu Jatim

Koorwil Aisnu Jawa Timur Ajak Madrasah Pacitan Masifkan Syiar di Media Sosial
Penulis
Aisnu Jatim
Tanggal Publikasi
30 January 2026
Waktu Membaca
2 min

Pacitan, AIS Nusantara – Di tengah derasnya arus informasi digital, santri dan lembaga pendidikan pesantren dituntut tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen konten yang inspiratif. Menjawab tantangan tersebut, Madrasah Aliyah (MA) Pembangunan Kikil Arjosari, Pacitan, menggelar 'Pelatihan Dasar Media Sosial Sekolah' bagi delegasi SMP dan MTs se-Kabupaten Pacitan, Kamis (29/01/2026).


Bertempat di Auditorium Bakri Hasbullah, Kompleks Pondok Pesantren Al-Fattah Kikil, agenda ini menghadirkan sosok yang sudah malang melintang di dunia literasi digital santri, Anwar Sanusi. Pria yang akrab disapa Kang Anwar ini merupakan figur multitalenta: Koordinator Wilayah (Korwil) AIS Nusantara Jawa Timur, Kontributor NU Online Jatim, sekaligus Kepala UPT TIPD IAI Attarmasi Pacitan.


Dalam paparannya, Anwar menekankan bahwa media sosial sekolah adalah "Rumah Digital" yang mencerminkan marwah lembaga. Ia mengajak para pengelola media madrasah untuk mengubah pola pikir dari sekadar posting menjadi mengelola "hunian" yang nyaman bagi audiens.

"Profil sekolah itu ibarat halaman depan yang harus asri dan mengundang tamu. Kolom komentar dan DM adalah ruang tamu tempat kita memuliakan pengunjung melalui sapaan. Sedangkan dapur adalah tempat kita mengolah konten sebelum disajikan dengan hangat kepada publik," ujar Anwar dengan tamsil khasnya yang mudah dicerna.

Sebagai praktisi yang fokus pada syiar digital, Anwar membedah formula 3E + 1I agar konten madrasah tidak kaku. Strategi ini memadukan Event (kegiatan), Education (edukasi), dan Emotion (sisi humanis), yang kemudian dikunci dengan Information (data akurat).


Menurutnya, konten yang menyentuh emosi dan memberikan nilai edukasi jauh lebih efektif dalam membangun kedekatan (engagement) dengan masyarakat daripada sekadar unggahan formalitas. Tak hanya teori, Anwar juga membekali peserta dengan Three Angle Technique—sebuah teknik visual untuk menangkap kedalaman ekspresi dan suasana agar pesan dakwah visual lebih "berbicara".


Melengkapi aspek teknis, Anwar memperkenalkan metode S.A.P.A. (Sapaan, Apa kegiatannya, Pesan singkat, Ajakan). Formula ini dirancang agar caption media sosial madrasah tetap memiliki karakter santun khas santri namun tetap interaktif di ruang siber.


"Media sosial adalah aset sejarah sekaligus sarana promosi. Meski timnya kecil, jika dikelola dengan hati, ia akan menjadi wasilah untuk menyebarkan inspirasi positif dan mempererat silaturahim dengan masyarakat luas," tegas tokoh muda yang aktif menggerakkan literasi digital di lingkungan pesantren Jawa Timur ini.


Melalui sentuhan dingin Anwar Sanusi dalam pelatihan ini, diharapkan madrasah-madrasah di Pacitan semakin percaya diri menunjukkan izzah dan akhlakul karimah melalui konten-konten kreatif di media sosial.

🔗 Bagikan Artikel Ini