Klaten, 24 Januari 2026 – Ribuan jemaah memadati Komplek Pendopo Sunan Pandanaran, Bayat, Klaten, pada Sabtu malam Ahad (24/1) untuk menghadiri peringatan Haul Agung Sunan Pandanaran ke-482. Acara ini mengangkat tema strategis: "Sunan Pandanaran Bayat: Sang Wali Penanda Zaman".
Dalam pembacaan manaqib (riwayat hidup), Gus Tino Suharjo memaparkan peran sentral Sunan Pandanaran sebagai sosok "Penanda Zaman". Ia menekankan bahwa dinamika sejarah di Jawa Tengah dan Jawa Timur pasca-era Kerajaan Demak tidak bisa dilepaskan dari pengaruh besar Tembayat.
"Sunan Pandanaran mengajarkan konsep Patembayatan, sebuah nilai luhur yang menjunjung tinggi gotong royong, tepa selira (toleransi), dan rasa melu handarbeni (merasa memiliki). Nilai-nilai inilah yang menjadi intisari dan akar sosiologis terciptanya Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Gus Tino.
Hadir dalam acara tersebut, Ketua LPP PBNU, H. Tumiyono, menyampaikan apresiasinya. Dalam sambutannya, ia menyebut Tembayat sebagai tanah yang diberkahi. "Tembayat adalah tempat di mana tokoh-tokoh besar lahir dan menimba ilmu spiritualitas," tuturnya.
Senada dengan hal tersebut, Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menegaskan bahwa Haul Agung ini membawa keberkahan serta kemaslahatan bagi warga Klaten. Sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah, ia berencana memasukkan haul tokoh-tokoh besar Klaten ke dalam agenda resmi daerah.
"Ini adalah langkah nyata pelestarian sejarah agar generasi muda tidak kehilangan jati dirinya," tegas Mas Bupati, sapaan akrabnya.
Puncak acara diisi dengan mauidzah hasanah oleh Rektor INSURI Ponorogo sekaligus Pengasuh Ponpes Darur Ridlo, Dr. K. Muhamad Asvin Abdur Rohman, M.Pd.I. Dalam ceramahnya, beliau menekankan bahwa keteladanan Sunan Pandanaran dalam berdakwah yang santun dan merangkul masih sangat relevan.
"Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, menjaga persatuan dan memperkuat akar spiritualitas adalah kunci agar kita tidak terombang-ambing," pesan Dr. K. Muhamad Asvin.
Peringatan Haul Agung ke-482 ini ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, mempertegas posisi MWC NU Bayat dalam menjaga tradisi sekaligus merawat persatuan nasional.